Jumat, 20 Februari 2026

bahan ajar sekolah minggu (pelayanan anak dan remaja) seri tokoh Alkitab yusuf


JANGAN IRI HATI
TUJUAN UMUM
Anak-anak memahami bahwa:
1. Mengerti bahwa iri hati dapat merusak hubungan
2. Menyadari bahwa iri hati harus dikendalikan
3. Belajar bersyukur dan mengasihi orang lain
4. Percaya bahwaTuhan punya rencana baik untuk setiap orang
BAHAN BACAAN: Kejadian 37:1–36
LAGU-LAGU:
HALLO APA KABAR TEMAN?
HARI INI KU RASA BAHAGIA
RUKUN CINTA
ROTI DAN MENTEGA
K.A.S.I.H
DALAM TUHAN KITA BERSAUDARA
YESUS SAYANG SEMUA
PENJELASAN BAHAN
Kisah ini adalah awal dari perjalanan hidup Yusuf, anak dari Yakub.yusuf adalah anak yang lahir dari Rahel, istri yang dikasihi Yakub. Karena itu Yakub memperlakukan Yusuf sangat istimewa. Ia memberinya jbah maha indah (tanda kasih khusus dan simbol hak istimewa). Masalahnya ini bukan sekedar jubbah. Masalahnya adalah perlakuan yang tidak seimbang dalam keluarga. Saudara-saudara Yusuf merasa tidak dihargai, tidak disayang seperti Yusuf dan terancam oleh mimpi Yusuf. Ini menjadi lahan subur bagi iri hati.
Iri hati dalam kisah ini berkembang melalui beberapa tahap:
1. Perlakuan khusus (ayat 3-4)
2. Kebencian yang dipendam (ayat 4)
3. Tidak sanggup berkata baik-baik
4. Mimpi Yusuf memperparah rasa terancam (ayat 5-11)
5. Kebencian berubah menjadi tindakan jahat (ayat 18-28)
Iri hati tidak langsung menjadi kejahatan besar. Ia dimulai dari luka dan perbandingan yang tidak diselesaikan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Yakub menunjukkan sikap pilih kasih kepada anak-anaknya
2. Yusuf mungkin kurang bijaksana dalam menyampaikan mimpinya
3. Saudara-saudara memilih kekerasan sebagai jalan keluar
Kisah ini bukan hitam-putih, semua tokoh memiliki kelemahan. Guru perlu berhati-hati agar tidak menggambarkanYusuf sebagai orang sempurna tanpa salah dan saudara-saudaranya sebagai tokoh yang sangat jahat. Yang ditekankan adalah proses hati.
Walaupun pasal 37 terlihat gelap, tetapi ini adalah awal rencana Allah. yang manusia maksudkan untuk kejahatan, Allah pakai untuk kebaikan. Pesan teologis teks ini adalah:
1. Allah tetap bekerja ditengah konflik keluarga
2. Dosa manusia tidak menggagalkan rencana Allah
3. Iri hati membawa kehancuran hubungan sesama manusia
iri hati pada masa kini dapat muncul dalam bentuk persaingan nilai,media sosial, perbandingan fisik, perlakuan orang tua, popularitas dan kepemilikan barang. Pesan cerita ini adalah perasaan iri dapat muncul secara manusiawi, tetapi kita bertanggung jawab atas respon kita.
Beberapa anak mungkin merasa diperlakukan tidak adil di rumah, mengalami kecemburuan terhadap saudara dan mengalami perundungan. Guru perlu untuk tidak menyederhanakan iri hari menjadi sekedar kamu tidak boleh begitu. Berikanlah ruang kepada anak mengungkapkan perasaan dan arahkan anak untuk mengelola emosi yang sehat. Iri hati tidak selalu terlihat besar di awal, tetapiu jika dibiarkan ia bisa menghancurkan keluarga, persahabatan dan masa depan.
Bahan ajar kelas indria
Tema: Jangan Iri Hati
Bahan Alkitab: Kejadian 37:1-36
Ayat hafalan: 1 Korintus 13:4 “kasih itu tidak cemburu”
Gerakannnya:
Kasih itu----tangan di dada
Tidak ----- geleng kepala
Cemburu ---- tangan silang di dada
Pendekatan: cerita sederhana, tanya jawab sederhana, gerak dan ekspresi
Bahan ajar:
Anak-anak, Yakub menikah dan memiliki 12 orang anak. Tetapi ada satu anak yang paling Yakub sayang yaitu Yusuf. Karena itu, Yusuf mendapat baju yang paling bagus. Saudara-saudara Yusuf melihat baju itu. mereka menjadi iri hati. Iri hati itu bagaimana ya? Iri hati itu saat kita tidak senang melihat orang lain dapat sesuatu yang bagus. Karena iri hati, saudara-saudara Yusuf menjadi marah. Mereka melakukan hal yang jahat kepada Yusuf. Mereka membuang Yusuf ke dalam sumur, lalu menjualnya. Wah…itu sedih sekali ya?
Anak-anak, iri hati membuat hati jadi tidak baik. Iri hati membuat orang melakukan hal yang salah. Tuhan tidak mau kita iri hati. Tuhan mau kita saling mengasihi.
Tuhan senang kalau kita mau meminta maaf dan memaafkan.
PENERAPAN (AKTIVITAS): bermain ekspresi wajah
Cara bermain:
1. Guru berkata “Anak-anak sekarang kita bermain ekspresi wajah”
2. Guru sebutkan situasi, anak-anak membuat ekspresi wajah.
3. Contoh; “Teman dapat hadiah” (anak buat wajah cemberut)
“kita ikut senang untuk anak” (anak buat wajah tersenyum lebar)
“kakak dipuji mama” (anak buat wajah cemberut)
“kita bilang selamat ya” (anak buat wajah tersenyum lebar)
4. Tanyakan pada anak mana yang lebih bagus? Wajah marah atau wajah senyum? Tuhan senang lihat wajah yang mana?
5. Tutup dengan kalimat aku mau hati yang senang bukan iri
DOA SINGKAT
“Tuhan Yesus yang baik, tolong kami supaya tidak iri hati. Ajar kami untuk senang melihat teman diberkati. Buat hati kami penuh kasih. Amin.”
Bahan ajar kelas pra tanggung
Tema: Jangan Iri Hati
Bahan Alkitab: Kejadian 37:1-36
Ayat hafalan: 1 Korintus 13:4 “kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu”
Pendekatan: cerita sederhana, tanya jawab sederhana, aktivitas reflektif
Bahan ajar:
Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang Yusuf, anak dari Yakub. Yusuf diberi baju yang indah oleh ayahnya. Saudara-saudaranya tidak senang. Saudara-saudara Yusuf menjadi iri hati. Iri hati itu benih kecil kalau dipelihara bisa tumbuh menjadi marah. Marah menjadi kebencian. Akhirnya mereka menjual Yusuf. Semua itu dimulai dari iri hati.
Pesan penting:
Kalau iri hati muncul, cepat berhenti. Berdoa dan bersyukur.
AKTIVITAS PENERAPAN
Aktivitas: Rantai Iri
Buat rantai dari kertas. Di setiap potongan, anak menulis:
Iri---marah---benci----menyakiti
Guru lalu menggunting rantai itu dan berkata kita putuskan rantai iri hati
Diskusikan dengan anak: bagaimana cara memutuskan rantai iri hati?
Beberapa jawaban: bersyukur, doa, mengucapkan selamat kepada teman, ikut senang kalau teman diberi hadiah
DOA SINGKAT
“Tuhan Yesus, tolong supaya kami tidak iri hati. Ajarlah kami bersyukur dan senang melihat teman diberkati Amin.”
Bahan ajar kelas tanggung
Tema: Jangan Iri Hati
Bahan Alkitab: Kejadian 37:1-36
Ayat hafalan: 1 Korintus 13:4 “kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu”
Pendekatan: pembacaan Alkitab, diskusi
Bahan ajar:
Ajak anak membaca Alkitab bersama.
Penjelasan: Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang Yusuf, anak dari Yakub. Yusuf diberi baju yang indah oleh ayahnya. Saudara-saudaranya tidak senang. Saudara-saudara Yusuf menjadi iri hati. Tetapi masalahnya bukan di baju tetapi pada hati yang iri. Saudara-saudara Yusuf merasa tidak adil, kurang diperhatikan dan tidak dihargai. Iri hati yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kebencian. Kebencian mendorong tindakan jahat.
DISKUSI TERBIMBING
Mengapa iri hati bisa berbahaya?
Di sekolah, iri biasanya muncul dalam hal apa?
Bagaimana cara sehat menghadapi rasa tidak adil?
Tekankan pada anak bahwa: perasaan iri bisa muncul pada siapa saja. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak iri hati dan bertanggung jawab atas tindakan kita.
AKTIVITAS: membuat jurnal hati
Minta anak menulis
1. Kapan terakhir kali saya merasa iri?
2. Apa yang saya lakukan?
3. Apa yang seharusnya saya lakukan?
Tutup dengan janji: saya memilih kasih bukan iri. (diucapkan bersama-sama)
DOA SINGKAT
“Tuhan yang penuh kasih, Engkau tahu isi hati kami. Saat kami merasa iri, tolong kami mengendalikannya. Bentuk hati kami menjadi hati yang penuh kasih. Amin.”
Bahan ajar kelas remaja
Tema: Jangan Iri Hati
Bahan Alkitab: Kejadian 37:1-36
Ayat hafalan: 1 Korintus 13:4 “kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu”
Pendekatan: pembacaan Alkitab, diskusi dan refleksi pribadi
BAHAN AJAR
Ajak anak-anak membaca Alkitab bersama-sama (bisa bergiliran atau berbalasan)
Pengantar:
Mulai kelas dengan membuat permainan “Siapa Lebih…..?”
Guru meminta semua anak berdiri
Guru membacakan pertanyaan. Jika merasa jawabannya “iya” pindah ke sisi kanan ruangan
Pertanyaan:
1. Pernah merasa teman lebih pintar dari saya
2. Pernah merasa kurang diperhatikan orang tua
3. Pernah merasa dibandingkan dengan saudara atau orang lain
4. Pernah membandingkan diri sendiri dengan orang di media sosial
5. Pernah iri diam-diam tapi tidak mau mengaku
Setelah itu minta mereka duduk.
Tanyakan kepada mereka:
Bagaimana rasanya waktu kamu iri?
Apakah perasaan itu membuatmu bahagia atau lebih gelisah?
Pada kenyataannya, hampir semua orang pernah membandingkan dirinya atau dibandingkan dengan orang lain.
Kisah dalam kejadian 37 menceritakan tentang Yusuf, anak dari Yakub, yang sangat dikasihi ayahnya. Masalah utamanya bukan hanya di jubah yang diberikan Yakub kepada Yusuf. Masalahnya adalah perasaan dibandingkan. Saudara-saudara Yusuf mungkin berpikir kenapa dia yang paling di sayang? Kenapa dia yang dipilih? Kenapa dia lebih baik?
Iri hati sering muncul saat kita: melihat teman lebih baik, melihat nilai orang lain lebih tinggi, melihat postingan media sosial yang terlihat sempurna atau merasa kurang diperhatikan orang tua.
DISKUSI REFLEKTIF
Apakah iri itu dosa atau perasaan biasa?
Apa bedanya iri dan ingin menjadi lebih baik?
Mengapa iri hati bisa berubah menjadi kebencian?
(diakhir diskusi guru menekankan bahwa perasaan iri hati bisa muncul secara alami. Tetapi ketika kita membiarkannya tumbuh, ia bisa merusak hubungan dengan orang lain).
Saudara Yusuf tidak mengelola rasa iri. Mereka membiarkannya menjadi kebencian. Akibatnya mereka menyakiti Yusuf dan juga ayah mereka.
AKTIVITAS: REFLEKSI PRIBADI (INDIVIDU)
Judul: Cermin Hati
Minta remaja menuliskan (untuk diri sendiri dan tidak perlu dikumpulkan):
Hal apa yang paling sering membuat aku iri?
Siapa yang sering saya bandingkan dengan diri saya?
Apa yang sebenarnya saya takutkan saat saya iri?
Bagaimana saya bisa mengubah iri menjadi motivasi?
Diakhir guru dapat menekankan 3 hal berikut:
Sadari perasaan iri
Berhenti membandingkan diri
Bersyukur dan fokus pada panggilan Tuhan untuk diri sendiri.
DOA PENUTUP
“Tuhan, Engkau tahu saat kami membandingkan diri dengan orang lain. Ampuni kami saat iri menguasai hati kami. Tolong kami bersyukur atas diri kami sendiri dan percaya pada rencana-Mu bagi hidup kami. Amin.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar